Postingan

Ruang Beku

Percakapan-percakapan yang aku ciptakan sendiri Buatku tersadar dari lamunan panjang Rupanya kau hanya bias di saat hujan datang Yang tak akan singgah di hati Ruang itu kemudian beku Tanpa kau sentuh, tanpa kau ketuk Sebelum semuanya bermuara Bertatap dan berbagi senyum Nampaknya kau memberi isyarat, “Perjalanan masih panjang dan carilah jalan keluar sendiri.”

Matahari di Musim Hujan

Matahari, belum senja kok sudah hilang, Rapuh tak bertuan, Pergi tak beranjak, Hilang tak tentu arah. Semburat cahaya dari matamu kini, kian susah ku dapatkan Terlalu banyak ruang kosong yang kita ciptakan berdua Hingga menenggelamkan apa-apa yang mestinya dekat Kepada belenggu waktu yang telah menghantarkanmu kepada ku, Terima kasih.

Ah, Kota

Ada begitu banyak candu di sini Mereka menamainya kehidupan Tanpa lelah dengan terus bekerja Menopang gengsi untuk esok hari katanya Egois dan konsumtif jadi makanan sehari-hari Jarang ku lihat mereka tersenyum Sibuk dengan rutinitas dan isi dompetnya masing-masing Ah, kota

Sementara Belaka

Gambar
Aku tak mampu lagi menatapmu, Di luar hujan sayang Tatap muka palsu tak akan pernah ada Berjanjilah untuk tidak pernah pulang kembali, Ke dalam luka yang kau biarkan menganga Banyak hal yang kau buat seolah nyata, Bahagia, Ah, aku menyangkal sayang Semuanya sementara, Semu belaka Kau hanya bercanda, Perihal mimpi, Janji, Kau mirip angin lalu Tenang sayang, Semuanya masih ku simpan Kelak, Ketika bunga kembali bersemi Kan ku wujudkan angan-angan kita menjadi realita 11/2/2017 Pondok Timur Indah, Bekasi

Tampak rindu tapi mau.

Diantara hutan rimba yang menjulang Kau membawa ku masuk ke duniamu Dan kau bicara tentang persamaan bulan dan senyum seorang putri raja Atau tentang gelembung racun yang bisa membuat siapa saja yang menelan akan terhisap jiwanya Bulan tampak tersipu didepanku Mungkin tahu bahwa senyum terindah sudah ada sore ini, senja yang mengantarkannya Gerbong panjang juga tak nampak dimuka Membuat hatiku terus berdebar jika berlama-lama berbincang denganmu Percayalah, hingga nanti bulan nampak sempurna Ku tak akan lari dari kenyamanan yang tlah kau beri. 031116, Stasiun Juanda.

Kepulangan semu.

Dari senja pertama ketika kamu putuskan untuk melanjutkan mimpimu, hingga 2 tahun tlah berlalu selama itu aku lewati tanpa kabar darimu. banyak senja yang ku lewati tanpa hadirmu, sendiri, sepi dan sendu. Selamat berulang ke 21th Dari banyak angin yang ku dengar, Kau semakin menjauh Lupa aku, aku, aku dan aku kau lupakan Cerita-ceritamu tak mampu lagi ku dengar Semuanya samar dan mereka seperti menyelimutimu untuk terus sembunyi dan tak pernah muncul kembali Aku mulai belajar untuk tidak mencemaskanmu lagi tidak merengek tentang kabarmu setiap hari Semoga cepat berbenah diri, Karena menjadi petualang itu hanya candu semata Kau juga punya kehidupan Punya mimpi yang harus kau raih, sendiri Tanpa aku, tanpa embel-embel kita   Aku rasa semua acuhmu sudah membekukan segala rasa diantara kita. Hingga, Rasa pulang untukmu ku rasa tidak akan pernah ada lagi Kau tidak akan pernah lagi menjadi pulangku dan aku tidak menemukan pul...

Padamu, Pulangku.

Perjalanan ini mengantarkanku tentang arti sepi, tentang kita yang berhenti sejenak. Ini tentang kita, tentang kesibukanmu dan rutinitasku, tentang hubungan yang berjarak, tentang cemburu, tentang rindu dan rahasia-rahasia yang masih menjadi teka-teki hingga kini. Belum bisa aku simpulkan jeda yang terjadi sekarang. Aku bertanya-tanya, bahkan setelah aku mendengar ucapan dari orang yang melahirkanmu lewat telepon, dan mengatakan jika kau tertidur karena sudah malam. Sayang, benarkah kau berubah? Aku memahamimu sejak kita puber, hampir 4 tahun kita bersama dan baru sekarang seperti ini. Manis pahitnya hubungan ini sudah kita sesap bersama, kita diskusikan semua berdua tapi entah mengapa setelah hubungan kita berjarak beratus kilometer semua berubah Tidak mudah bagiku membaca ini semua, situasi dan teka-teki darimu. Sayang, mengapa kau begitu rumit? “Lama aku menelan hari-hari yang kau sebut sepi. Dan akhirnya aku menemukan makna lain, bahwa sepi tidak lagi berbicara per...